» Demokrasi Kesukuan: SUATU PENGANTARUncategorized

 Length: [862] words. Views: 5

Demokrasi Kesukuan: SUATU PENGANTAR

Istilah Umum dan Layout Tulisan

Penjelasan istilah secara umum telah diulas secara lengkap dalam buku pengantar: Demokrasi Kesukuan: SUATU PENGANTAR. (Karoba, et.al., 2009). Dalam bagian berikut dijelaskan istilah-istilah khusus yang dipakai dalam buku ini karena ia mengadung konsepsi yang perlu dipetakan secara mendalam, tidak hanya sekedar penjelasan istilah.

Untuk layout tulisan, pertama bahwa masing-masing Bab dalam penulisan buku-buku Seri Surat-Surat Terbuka Anak Koteka kebanyakan diawali dengan daftar topik paparan dengan bullet points. Sama seperti sebuah Satuan Pelajaran, topic ulasan ditampilkan di sini. Lalu kedua isi tulisan ditampilkan dalam berbagai styles (gaya cetakan): kutipan, terjemahan kutipan, catatan penting sekali, catatan penting, catatan penjelasan, table, catatan dan komentar table dan juga ada catatan penekanan yang masing-masing dicetak dalam style dan font yang berbeda-beda. Maksudnya tidak lain untuk mempermudah anggota MADAT menangkap intisari dan penekanan pemikiran, serta membedakan pendapat ahli dan terjemahannya disertai komentar dan catatan penggagas.

Kadangkala pemikiran Demokrasi Kesukuan disinggung dalam ulasan di setiap Bab, tetapi kebanyakan disinggung dalam bagian kesimpulan dan ulasan di bagian penutup.

Selanjutnya hal ketiga yang perlu dicatat dalam layout tulisan ialah bahwa setiap ada kutipan dalam bahasa Inggris selalu disertai dengan terjemahannya yang diletakkan di dalam tanda pagar [] lalu diawali dengan kata “Artinya:” yang dicetak tebal. Jenis dan besar huruf untuk kutipan dan terjemahan-pun dibedakan untuk mempermudah proses pembacaan.

Kemudian keempat, buku-buku seri Surat-Surat Terbuka Anak Koteka juga diwarnai dengan pernyataan-pernyataan yang diajukan dalam bentuk kalimat pertanyaan, akan tetapi kebanyakan pertanyaan dijawab langsung dalam buku ini mengingat pertanyaan-pertanyaan dimaksud hanya diajukan untuk merangsang pembaca berpikir sebelum melihat jawabannya. Jawaban yang diberikan juga tidak seratus persen benar, karena pembaca sendiri dapat berpandangan berbeda daripada atau bahkan bertentangan dengan pendapat dalam gagasan ini.

Kelima, contoh-contoh kasus dan perumpamaan merupakan ciri khas bercerita dari MADAT sedunia. Itulah ciri khas wacana Demokrasi Kesukuan: banyak contoh kasus, banyak perumpamaan, banyak kutipan nasehat dan wejangan, juga banyak catatan kaki. Kebanyakan pelajaran dan pendidikan dalam MADAT terjadi lewat cerita-cerita, contoh-contoh kasus dan kutipan-kutipan wejangan. Jarangn sekali ada perintah untuk dilakukan atau dihindari secara singkat dan jelas. Semuanya bersifat himbauan, dalam ilustrasi dan pengandaian serta dalam bahasa-bahasa kiasan, dan dalam jumlah sebanyak mungkin.

Kita hampir tidak pernah mendengar, mengalami ataupun menyaksikan orang tua dalam komunitas MADAT berkata, “Hukum Adat kita berbunyi begini, maka Anda harus begitu!” Biasanya tua-tua adat atau orang tua sendiri akan menyatakan,

Ada orang namanya Tinus, dia tinggal di dekat kali Mbalim. Tiap hari dia memancing di kali Mbalim terus, pulang di tengah malam. Suatu hari dia pergi memancing lagi, tetapi kali ini anak kecilnya menangis meminta ayahnya tidak pergi memancing… Ia tidak memperdulikan anaknya, malahan ia memukuli anaknya lalu pergi. Akibatnya…

Itulah cara MADAT bercerita, dalam rangka memberikan rambu-rambu kehidupan dan itulah pula cara MADAT menulis dan berwacana, seperti dipaparkan dalam gagasan-gagasan Demokrasi Kesukuan dan buku edisi lainnya.

Keenam, selain dipaparkan dalam bentuk cerita, tua-tua MADAT juga selalu mengulangi dan mengulangi wejangan, cerita dan nasehat, tanpa bosan-bosannya, tidak pernah lelah, tidak pernah marah, tidak pernah mengeluh. Mereka terus-menerus, berulang-kali, kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apapun, mereka tetap saja, terus bercerita. Itulah pula ciri khas paparan Demokrasi Kesukuan. Banyak topik dan bahasan, bahkan kata dan kalimat yang diulang-ulang. Metode belajar-mengajar MADAT ialah pengulangan, bukan dengan cara indoktrinasi atau teorisasi. Dan pengulangan dimaksud bukan dilakukan lewat pengajaran teori, tetapi praktek, prakteknya yang diulang berkali-kali setelah dilihat berkali-kali.[[i]]

End Note:


[i] Perlu dibedakan antara “yang selalu dituturkan” dan “yang selalu dipraktekkan” sebagai contoh dalam MADAT: kedua-duanya dilakukan berulang-kali. Yang selalu diulang secara verbal dengan membicarakannya, di setiap kesempatan dan tempat ialah wejangan dan contoh kasus yang terkait dengan nilai-nilai, norma, tatakeramah dan pandangan hidup yang bersifat abstrak, yang membentuk akhlak, akal-budhi dan identitas.  Inilah yang kita sebut sebagai nilai-nilai adat (bukan hukum adat). Sementara yang tidak pernah dibicarakan tetapi dicontohkan secara berulangkali dalam setiap kesempatan dan tempat ialah keterampilan teknis pembungkus dan pewarna akhlak dan akal-budi yang berisi identitas dan kepribadian yang berabudhi luhur dan terampil. Inilah membentuk tradisi sebuah entitas identitas. Baik nilai-nilai adat maupun tradisi terkandung di dalam dan disebut budaya.